Pertanyaan yang Tidak Kujawab: Saat Anak Mencari Pahlawan di Rumahnya Sendiri

Malam itu rumah sudah tenang. TV dimatikan, dapur beres, dan udara dingin dari luar masuk lewat jendela. Aisyah dan Rehan sudah pakai piyama, siap tidur. Aku duduk di sofa sambil scroll-scroll berita—kebiasaan tidak sehat menjelang tidur yang entah kenapa tetap kulakukan.

Tiba-tiba Rehan duduk di sampingku. Pelan banget. Kayak dia takut mengganggu. Ia membawa buku gambar kecil yang sudah agak lusuh.

“Yah…” panggilnya.

“Hm?”
Jawaban otomatis, tanpa menoleh.

Dia membuka halaman buku itu. Ada gambar dua orang: sosok anak kecil dan seorang laki-laki yang lumayan tinggi. Tidak rapi, tapi penuh warna.

Dia menunjukkan ke arahku.
“Yah… ini Rehan sama siapa?”

Pertanyaan itu sederhana banget. Bahkan lucu. Tapi aku… tidak menjawab.

Bukan karena nggak tahu.
Tapi karena aku masih fokus baca sesuatu yang sebenarnya nggak ada urgensinya sama sekali.
Aku cuma berkata, “Bagus gambarnya,” lalu lanjut scroll.

Rehan diam. Benar-benar diam.
Lalu ia menutup bukunya perlahan dan berjalan ke kamarnya.

Kamu tahu rasa bersalah yang datang telat?
Yang nggak langsung nusuk tapi merambat?
Ya, itu yang kurasakan.

Beberapa menit kemudian aku baru sadar: dia tadi nanya apa?
Dan ketika kalimat itu terulang di kepalaku, aku langsung berdiri dan menuju kamarnya.

Rehan sudah berbaring, membelakangi pintu.
Buku gambarnya di samping bantal.

Aku duduk di tepi ranjang.
“Rehan… boleh Ayah lihat gambarnya lagi?”

Dia balik badan pelan. Matanya nggak marah, nggak nangis, cuma… kecewa yang tenang.
Itu yang lebih nyesek.

Aku buka bukunya.
Gambar itu lagi. Dua orang.
Anak kecil… dan ayahnya.

Rehan menunjuk salah satu gambar.
“Itu Ayah.”

Duh. Selesai.
Rasanya kayak ada batu 30 kilo jatuh di dada.

“Rehan pengin Ayah lihat dari tadi. Tapi Ayah sibuk,” katanya lirih.

Dan di momen itu aku sadar:
Kadang anak bukan mencari jawaban.
Mereka mencari pahlawan.
Pahlawan yang hadir, mendengar, dan memberi perhatian penuh.

Rehan tidak butuh ceramah. Tidak butuh nasihat panjang.
Dia cuma butuh aku menjawab pertanyaannya yang sederhana.

Aku peluk dia.
“Maaf ya, Nak. Ayah harusnya lihat kamu dulu, bukan HP.”

Rehan mengangguk kecil.
Anak itu mudah memaafkan. Mereka cuma ingin didengar.

Sejak malam itu, aku belajar satu hal yang tidak ada di buku parenting mana pun:
Anak sering menguji apakah kita benar-benar ada.
Dan mereka melakukannya lewat pertanyaan kecil yang tampak remeh tapi penuh makna.

Pertanyaan yang tidak kujawab malam itu mengajarkanku bahwa:
Ketidakhadiran kecil hari ini bisa membentuk jarak besar di masa depan.
Dan orang tua yang mereka cari sebagai pahlawan…
seharusnya mulai dari diri kita sendiri.

Oleh : Arsil Nurhuda

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *