Tangisan Magrib Itu Bukan Karena Nakal: Anak yang Butuh Pegangan

Magrib selalu punya suasana khas. Udara lebih dingin, langit berubah cepat, dan rumah tiba-tiba kerasa lebih sunyi. Orang tua zaman dulu selalu bilang, “Anak jangan dibiarkan main waktu magrib.”
Dulu aku pikir itu cuma mitos.
Sampai suatu hari… aku paham sendiri kenapa.

Waktu itu, azan baru saja berkumandang. Aku sedang bersiap-siap wudhu, sementara istriku membereskan mainan yang berserakan. Dan di tengah suasana yang berubah itu, Rehan—yang dari tadi kelihatan fine-fine aja—tiba-tiba menangis keras.

Nggak cuma nangis.
Tapi yang model tantrum total: teriak, guling, lempar mainan, minta ini-itu tanpa jelas.

Refleks default-ku: “Rehan, udah, jangan nakal! Ini mau shalat magrib!”

Teriakanku malah bikin tangisannya makin pecah.
Seolah-olah dunia runtuh buat dia.

Istriku mendekat pelan, lalu berbisik, “Coba jangan dimarahin dulu. Magrib itu memang waktu anak-anak lebih sensitif.”

Aku diam.
Nggak langsung paham, tapi aku coba tahan ego yang pengin marah.

Aku duduk di lantai, dekat dia.
Tanpa ceramah.
Tanpa menuntut dia diam.
Cuma… hadir.

Tangisannya pelan-pelan mereda. Napasnya mulai berat, kayak habis kabur dikejar anjing.
Dia merapat, memelukku dengan gemetar kecil.

Dan di situ aku baru sadar:
Dia bukan nakal.
Dia takut.
Dia bingung.
Dia gelisah dengan perubahan suasana yang bahkan dia sendiri belum bisa definisikan.

Gelap cepat.
Rumah tiba-tiba hening.
Waktu berganti.
Itu semua hal besar bagi pikiran kecil seorang anak.

Aku mengelus kepalanya.
“Nggak apa-apa, Nak. Ayah di sini.”

Dan kalimat itu…
lebih menenangkan daripada semua larangan, ancaman, atau bentakan yang biasa kita keluarkan saat emosi.

Setelah dia tenang, aku ajak wudhu sama-sama.
Ternyata dia mau.
Bahkan dia berdiri di sampingku saat shalat, dengan mata masih sisa-sisa merah karena habis nangis.

Malam itu aku belajar sesuatu yang orang tua sering lupa:
Anak tidak datang dengan label emosi yang jelas.
Mereka tidak tahu kenapa takut.
Mereka tidak tahu kenapa gelisah.
Mereka cuma… merasa.

Dan waktu magrib, saat alam bertransisi, anak ikut merasakan transisi itu.
Kadang lewat rewel.
Kadang lewat tangis.
Kadang lewat amukan tiba-tiba.

Bukan nakal.
Bukan kurang ajar.
Bukan drama.

Cuma butuh pegangan.

Butuh kehadiran.
Butuh dekapan.
Butuh kita sebagai jangkar, bukan hakim.

Sejak hari itu, magrib jadi waktu paling lembut di rumah kami.
Bukan untuk marah-marah, tapi untuk mendekatkan diri.
Untuk membiarkan anak merasa aman saat dunia di luar berubah.

Karena ternyata, tugas orang tua bukan meredam anak.
Tugas kita membuat mereka merasa:
“Kamu aman. Aku ada.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *